Sisi Gelap Lokalisasi dan Prostitusi di Kramat Tunggak Jakarta Utara

Sisi Gelap Lokalisasi dan Prostitusi di Kramat Tunggak Jakarta Utara

Sisi Gelap Lokalisasi dan Prostitusi di Kramat Tunggak Jakarta Utara – Mengupas sisi malam tempat prostitusi dan lokalisasi memang tidak semua orang dapat memahami hal tersebut. Karena negara bagian timur seperti Indonesia salah satunya, bisnis prostitusi adalah salah satu hal yang tabu untuk di bicarakan.meski peminat untuk bisnis tersebut sangat tinggi.

banyak yang memberi commend negatif tapi banyak juga yang menikmati bisnis tersebut. bahkan ternyata di Indonesia sendiri ada beberapa tempat yang sangat terkenal di asia tenggara.

Kramat Tunggak –  Jakarta Utara

Di kawasan Kali Jodoh, Jakarta Utara terdapat suatu lokalisasi yang bernama Kramat Tunggak dan sebetulnya lokasi ini merupakan lokasi prostitusi yang menyebar di beberapa area seperti Bina Ria dan Volker. Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin meresmikan Tempat Rehabilitasi Sosial (Lokres) Kramat Tunggak.

Awalnya ada kurang lebih 300 PSK dengan 76 germo di sini. Tapi jumlahnya terus berkembangs ampai terkenal di kawasan Asia Tenggara. Pada dekade 1980-1990an, lokalisasi dengan luas nyaris 12 hektar ini mempunyai lebih dari 2.000 PSK dan 258 germo yang terdaftar.

Disebutkan PSK di Kramat Tunggak ini berasal dari Indramayu, Subang dan kawasan pantura lainnya demi mencari sesuap nasi.

Dalam sejarahnya, Jakarta sempat mempunyai tempat pelacuran yang dikenal dengan nama lokalisasi Kramat Tunggak, di kawasan Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Pada perjalanannya, lokalisasi paling besar di Ibu Kota tersebut berhenti dengan penutupan atas desakan penduduk lantaran tingginya masalah kriminalitas dan sosial.

Sisi Gelap Lokalisasi dan Prostitusi di Kramat Tunggak Jakarta Utara

Sejak ditutup pada akhir 1999, kawasan tersebut saat ini berubah. Di atas lahan bekas area prostitusi zaman 1970-1999 ini, berdiri Jakarta Islamic Centre, sebuah lembaga pengkajian dan pengembangan Islam di Jakarta. Masa dulu yang kelam dampak dari kehidupan malam pun berhenti.

“Semenjak itu dibongkar, rumah tangga orang di sini enggak terganggu atau tergoda,” kata Pardi (65), warga Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, saat ditemui media.

Pardi mengenang, dulu, para pekerja sex komersial (PSK) yang bekerja di sana selalu mejeng di depan tempat kerja. Pada tahun 1985, lanjutnya, sekali melayani para PSK itu mendapat penghasilan Rp 300-500.

Para PSK, berasal dari campuran beraneka ragam daerah, termasuk juga orang asing. Tidak jarang, ada pengunjung lokalisasi yang ke luar mabuk-mabukan. Keberadaan para pekerja sex disaat itu, lanjutnya, kerap mengganggu rumah tangga warga.

“Dulu banyak istri yang enggak tenang, laki akhirnya pada suka nyeleweng. Namanya nafsu setan,” ujar Pardi.

Ketika itu, kata dia, bangunan yang dijadikan sebagai bilik asmara antara PSK dan pria hidung belang jumlahnya sangat banyak, ratusan. Kondisinya “terkurung” tapi tidak jauh dengan pemukiman penduduk.

“Banyak biliknya, jadi itu dari Rumah Sakit Pelabuhan sampai gang 8 sana,” ujarnya.

Bangunan di lokalisasi Kramat Tunggak saat itu, menurutnya, masih terbuat dari material tripleks dan seng. Ada yang bertingkat, ada yang tidak. Keadaan lingkungan diterangi dengan sejumlah lampu pijar. Walaupun “jadul”, tetapi lokalisasi ini telah memiliki kelengkapan musik.

Pardi yang bekerja sebagai pengayuh becak ini mengatakan, sebelum lokalisasi itu ditutup, dia kerap mendapat penumpang yang merupakan pelanggan lokalisasi. Tempat mangkal Pardi, yakni dekat Polsek Koja, yang cuma berjarak kurang lebih 100 m dari bekas lokalisasi Kramat Tunggak.

Sejak tahun 1975, pria asli Brebes, Jawa Tengah ini telah menngayuh becak di tempat tersebut sampai sekarang. “Dulu di sini ramai, sebelum menjadi mesjid (JIC), tahu bongkaran Tanah Abang enggak? Kayak gitu, namun di sini lebih rapi,” ucap Pardi.

Penutupan lokalisasi itu, lanjutnya, bukan tanpa penolakan. Sebagian pihak yang menggantungkan hidup dari lokalisasi itu banyak yang menolak.

“Germo-germonya enggak mau. Ada yang ingin memilih bertahan. Udah kayak mau perang. Namun hasilnya digusur pakai traktor,” ujarnya.

Kebijakan untuk menutup lokalisasi besar seperti ini juga dilakukan Pemerintah Kota Surabaya. Pemerintahan setempat menutup lokalisasi Dolly, yang konon merupakan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Lokalisasi Kramat Tunggak kini memiliki aktivitas kehidupan yang berbeda dengan masa lalunya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *